Berhenti berdebat! Saatnya mengejar ketertinggalan

Aku mau cerita hasil pengamatan dari apa yang aku pelajari selama ini. Sebenarnya pemikiran ini sudah muncul beberapa kali di kepalaku, tapi hari ini aku benar-benar yakin kalau analisis ini bisa dibuktikan. Awalnya, semua ini dipicu oleh salah satu postingan di media sosial yang aku lihat hari ini.

1. Pembubaran rumah makan saat puasa

Karena sekarang sedang bulan puasa, setiap tahun selalu ada berita tentang pembubaran rumah makan yang tetap buka di siang hari. Jujur, aku merasa ini bukan hal yang sangat penting, tapi justru dari situ aku melihat gambaran besar—kenapa hal seperti ini masih dianggap isu besar? Kenapa masih ada perdebatan tentang rumah makan yang buka saat puasa? Dan lebih aneh lagi, kenapa pemerintah ikut turun tangan untuk membubarkan rumah makan ini?

Salah satu contohnya adalah di Kalimantan, di mana sebuah cabang Mie Gacoan—restoran mie terkenal di Indonesia—diminta untuk tutup oleh pemerintah. Selevel pemerintah, loh! Untuk apa membubarkan rumah makan hanya karena alasan “menghormati yang berpuasa”? Kenapa ini dijadikan proyek pemerintah? Bukankah ada hal yang lebih penting untuk diurus? Hal ini juga terjadi di daerah lain, seperti di Jawa Barat, di mana rumah makan kecil sampai ditendang-tendang gerobaknya. Dan yang lebih miris, bukan hanya pemerintah yang melakukannya, tapi juga ormas. Kenapa orang-orang masih sibuk mengurusi hal-hal kecil seperti ini, sementara ada masalah yang lebih besar yang seharusnya diperhatikan?

2. Mitos dan kurangnya dokumentasi dalam budaya tradisional



Ini bukan cuma soal rumah makan, tapi lebih ke pola pikir masyarakat. Aku pernah dapat materi dari profesor biokimia di Fakultas Kedokteran UI yang bilang kalau Indonesia masih banyak terjebak dalam mitos. Contohnya, dulu orang sangat menghormati benda-benda tertentu seperti keris. Keris dianggap sakti dan penuh dengan kekuatan gaib. Padahal, kalau dibandingkan dengan Jepang, mereka punya Samurai yang juga bagian dari tradisi mereka, tapi Samurai terus berkembang. Samurai sekarang dibuat dengan teknologi modern, bahannya bisa dari logam terbaik, bahkan dari meteorit. Mereka terus mengembangkan senjata tradisional mereka agar lebih maju, bukan hanya terjebak dalam mitos seperti di Indonesia.

Di sini, kita tidak punya dokumentasi yang baik. Kita bahkan tidak tahu cara membuat keris dengan teknik yang lebih baik karena semuanya dikuasai oleh segelintir “ahli” yang tidak membagikan ilmunya. Sementara di luar negeri, mereka mendokumentasikan semua proses sehingga perkembangan bisa lebih cepat. Hal ini berlaku bukan cuma di budaya, tapi juga di bidang ilmu pengetahuan.

3. Ketertinggalan dalam sains dan teknologi

Aku baru sadar akan hal ini ketika tadi siang harus mempresentasikan materi tentang drug delivery system. Saat menyusun materi bersama teman-teman, aku merasa kita masih berkutat di konsep-konsep lama seperti nanopartikel dan liposom. Padahal, dunia kedokteran sudah melangkah jauh ke depan. Sekarang sudah ada teknologi seperti stem cell, AI, robotik, dan bahkan nanorobot untuk pengobatan. Tapi kita? Masih muter-muter di nanopartikel.

Ini bikin aku bertanya, kita selama ini ke mana aja? Kita seharusnya sudah mulai berpikir lebih maju dan tidak hanya berpatokan pada materi yang sudah ketinggalan zaman. Fakta bahwa fakultas kedokteran nomor satu di Indonesia pun masih terjebak dalam pola pikir ini menunjukkan bahwa kita benar-benar perlu sadar bahwa dunia sudah bergerak lebih cepat dari yang kita kira.

Mungkin ini bisa jadi pengingat buat aku sendiri dan juga buat teman-teman yang baca. Kita nggak boleh terus-terusan tertinggal. Sudah saatnya kita keluar dari pola pikir lama dan mulai bergerak lebih cepat. Jangan sampai kita terus mengulang kesalahan yang sama dan tetap berada di posisi yang sama selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Menabung (ala Ranti)

Perkutut : Dipercaya Membawa Keberuntungan dan Kesialan

Rumah Menghadap ke Selatan (mitos jawa)